Element

Anak Mulai Toilet Training? Hindari 5 Kesalahan Berikut!

Anak Mulai Toilet Training? Hindari 5 Kesalahan Berikut!

Bunda ingin si kecil nggak lagi pakai popok dan mampu mengomunikasikan keinginannya apabila butuh ke kamar kecil? Kalau begitu Bunda perlu menerapkan toilet training buat si kecil. Tapi sebelum mulai, agar Bunda dapat mengajarkannya dengan baik, pelajari dulu yuk beberapa kesalahan yang suka dilakukan para orang tua dalam melaksanakan toilet training.

#TahuNggakSihBun kalau kemampuan untuk menggunakan toilet juga merupakan pencapaian penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak. Hal ini dapat menjadi salah satu tanda bahwa si kecil tumbuh dan berkembang dengan baik. Tapi untuk membuktikan kemampuannya dalam menggunakan toilet, si kecil perlu menjalani pelatihannya terlebih dahulu yang biasa disebut dengan “toilet training”. Selama proses pelatihan, si kecil bakal belajar untuk buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) di toilet, bukan lagi di popok atau celana dalam.

Sebelum menerapkan toilet training pada si kecil, ada baiknya Bunda mempelajari dulu beberapa kesalahan yang tak jarang dilakukan oleh para orang tua. Jadi, Bunda bisa menghindarinya dan si kecil pun dapat menjalani toilet training dengan nyaman, senyaman plester ByeBye-FEVER yang lembut dan mampu memberikan sensasi sejuk pada kulit si kecil kala mengalami demam. Oke, langsung saja kita simak yuk, lima kesalahan yang patut dihindari dalam melakukan toilet training pada anak:

 

  1. Belum Mencapai Usia yang Tepat
    Kapan anak bisa mulai toilet training? Sebenarnya nggak ada usia yang pasti, Bun, tapi menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak bisa memulai toilet training ketika menginjak usia 18 bulan sampai 2,5 tahun. 
    Yang jelas, Bunda harus memerhatikan kesiapan fisik dan psikologisnya, di antaranya si kecil sudah mampu duduk dan berjalan dengan baik, ia juga mampu mengutarakan keinginannya untuk BAK maupun BAB, dan ia mampu melepas dan mengenakan pakaiannya sendiri. Jadi, hindari penerapan toilet training yang terlalu dini pada si kecil ya, Bun.
     
  2.  Kurang Perkenalan 
    Logikanya, bagaimana anak bisa mahir untuk melakukan sesuatu jika pengetahuan tentangnya kurang. Jadi, Bunda harus memperkenalkan kegiatan dan penggunaan toilet ini dengan baik. Awali pengajaran Bunda dengan menjelaskan fungsi dari toilet kepada si kecil. Jelaskan juga kalau sekarang ia tidak boleh buang air di popok atau celana dalam lagi, melainkan harus dilakukan di toilet.
    Kemudian, ajari step by step saat menggunakan toilet, termasuk membersihkan alat kelamin dan cuci tangan setelahnya ya, Bun. Agar lebih nyaman, Bunda bisa gunakan pispot khusus anak untuk menyesuaikan ukuran tubuh si kecil.
     
  3. Dijadikan Beban
    Toilet training adalah sebuah proses, Bun, dan bukan satu hal yang bisa langsung dipahami oleh anak dalam satu sampai dua jam saja. Butuh waktu beberapa hari bahkan kalau Bunda browsing di luar sana, ada lho kisah seorang Bunda yang anaknya baru lulus toilet training setelah 2,5 tahun. 
    ByeBye-FEVER sih berharap anak Bunda bisa lulus dengan cepat, tapi kondisi setiap anak kan berbeda ya, Bun. Pokoknya jadikan pelatihan ini terasa fun dan tidak meninggalkan trauma pada anak.  Berikan anak waktu dan tetap semangat mengajarinya, Bun.
     
  4. Membandingkan dengan Anak Lain
    “Membandingkan” ini suka menjadi “penyakit” kita semua ya, Bun. Tapi, ayo kita belajar untuk tidak seperti itu. Boleh nggak kita belajar dan mencoba tips dari pengalaman orang lain? Boleh dong, tapi nggak perlu sampai membandingkan anak Bunda dengan anak mereka, termasuk dalam urusan toilet training.
    Kembali lagi pada poin-poinnya sebelumnya, kita harus memahami kesiapan dan kondisi anak, nggak perlu banding-bandingin apalagi sampai ada pemaksaan yang berlebihan. Takutnya anak malah stres dan mengganggu kestabilan emosinya, Bun.
     
  5.  Menghukum Terlalu Keras
    Bete nggak kalau anak buang air tidak pada tempatnya? Bunda juga pasti lelah membersihkan kotorannya dan tak jarang ada drama penolakan anak untuk menggunakan toilet yang bikin “sakit kepala”. Sabar ya, Bun. sekali lagi, beri si kecil waktu. 
    Jika si kecil masih saja BAK atau BAB tidak pada tempatnya, Bunda boleh saja memberinya pelajaran, tapi tetap dalam batasan wajar dan tidak menyakiti fisiknya ya. Misalnya, saat si kecil masih saja bandel pipis di celana, Bunda sembunyikan saja mainan favoritnya untuk beberapa waktu. Mungkin si kecil akan protes dan menangis, tapi ia harus tahu kesalahan yang diperbuatnya sehingga ia mau belajar dan tidak mengulanginya lagi.

 

Baiklah, sekarang Bunda sudah tahu nih, hal apa saja yang perlu dihindari saat menerapkan toilet training pada anak. Oh iya, salah satu kunci sukses toilet training pada anak adalah konsistensi. Bunda harus disiplin dan tegas, jangan mudah luluh saat anak merengek dan menolak untuk BAK maupun BAB di kamar kecil.

Semangat ya, Bun dan semoga si kecil cepat lulus pelatihannya. Jangan lupa bagikan artikel ini di akun media sosial Bunda, ya!

Mountain
Cloud Cloud Cloud Cloud
keyboard_arrow_down