Element

5 Kepribadian R.A Kartini buat Anak Teladani

5 Kepribadian R.A Kartini buat Anak Teladani

Bunda  familier dengan tokoh R.A Kartini? Oke, kali ini kita akan belajar sedikit mengenai sosok beliau dan perannya sebagai perempuan, serta kepribadian atau sifat Kartini mana yang bisa kita teladani untuk diajarkan kepada si kecil. Bunda siap?

“Ibu kita Kartini, putri sejati. Putri Indonesia, harum namanya. Ibu kita Kartini, pendekar bangsa. Pendekar kaumnya untuk merdeka...” 

Ingat penggalan lirik lagu ini, Bun? Bunda mungkin sering menyanyikan lagu ini semasa kecil dulu, dan sekarang, si kecil juga mungkin sudah mulai diajarkan lagu ini, terutama jika ia sudah masuk kelas taman kanak-kanak. Tentu ada alasan istimewa, mengapa sosok R.A Kartini patut dikenang dan disebut sebagai pendekar bangsa bahkan kita pun selalu memperingati Hari Kartini pada tanggal kelahirannya, yakni 21 April.

Sebelum meneladani kepribadian Ibu Kartini yang positif untuk kita ajarkan kepada buah hati, ByeBye-FEVER bakal berbagi cerita singkat mengenai sosok beliau ya, Bun. Wanita kelahiran Jepara pada tahun 1879 ini merupakan keturunan dari keluarga ningrat atau priyayi Jawa. Ayahnya adalah seorang Bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, sedangkan ibunya adalah seorang guru agama bernama M.A Ngasirah. Sebagai keturunan keluarga priyayi, Ibu Kartini punya kesempatan untuk bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) pada usia 12 tahun. Di sekolah ini, Ibu Kartini mulai belajar bahasa Belanda sekaligus tertarik dengan pemikiran para perempuan Belanda yang maju. Maka dari situ, muncullah niatnya untuk memajukan para perempuan Indonesia yang pada masa itu memiliki status sosial yang rendah.

Setelah mengenal sekilas sosok Ibu Kartini, sekarang mari kita ketahui kepribadian beliau yang dapat anak-anak kita teladani. Berikut lima di antaranya, Bun!

 

1. Hormat Kepada Orang Tua

#TahuNggakSihBun, sekalipun Ibu Kartini beruntung bisa bersekolah dan berteman dengan orang-orang asing, sayangnya pengalaman sekolahnya tidak lama. Beliau harus segera dipingit dan pada waktu itu, menurut ibunya, sekolah bukanlah hal yang utama bagi wanita. Ibu Kartini pada dasarnya adalah sosok memegang teguh adab. Meskipun beliau sangat menjunjung pendidikan, tapi akhirnya ia coba menghormati keinginan orang tuanya.

Bun, yang namanya orang tua tentu saja bisa salah. Ke depannya pun, semakin si kecil tumbuh dewasa, Bunda akan menghadapi perbedaan pendapat dengannya. It’s okay, ini wajar banget kok. Tapi, bagaimanapun, penting bagi anak untuk mampu menunjukkan rasa hormat kepada orang tuanya dan kepada orang-orang yang lebih tua darinya. Sejak kecil, Bunda bisa melatih anak untuk mampu berkomunikasi dua arah dan bersikap sopan.

Seperti Ibu Kartini, beliau sebenarnya banyak menentang sikap keluarga yang mengesampingkan peran perempuan sebagai pengambil keputusan keluarga. Namun, bukan berarti beliau langsung menyepelekan aturan tersebut begitu saja. Beliau justru berusaha untuk berdiplomasi dan mencari titik temu. Jika ternyata tak diizinkan, dirinya pun mencari cara lain atau menerima dengan lapang hati hasil keputusan tersebut. 

 

2. Rajin Belajar

Ibu Kartini sejak kecil sudah dibekali berbagai ilmu pengetahuan, mulai dari pengetahuan umum, agama, hingga kegiatan praktis seperti masak atau membersihkan rumah. Meski pendidikan formalnya hanya sebatas tingkat dasar, beliau tetap mengembangkan dirinya dengan terus belajar secara mandiri. Bahkan sekalipun sudah tidak sekolah, beliau tetap rajin menulis dan belajar bahasa asing. Kemampuan menulis dan berbahasa asing beliau pun kian terlatih, karena beliau aktif menulis surat untuk para sahabat penanya yang berasal dari Belanda.

Bagaimana dengan si kecil, Bun? Seberapa besar keinginannya untuk belajar dan mengeksplorasi sekitarnya? Agar si kecil senang belajar, Bunda bisa bantu dengan menciptakan lingkungan yang mendukung. Misalnya, Bunda menjadikan buku sebagai salah satu bentuk hiburan bagi si kecil. Selain itu, kemampuan berbahasa asing anak juga bisa Bunda latih dengan memutar lagu anak-anak dalam bahasa asing atau mengajak ia berbicara menggunakan bahasa asing tersebut. 

 

3. Problem Solver

Tidak bisa lanjut sekolah bukan berarti tidak bisa lanjut belajar. Seperti yang sudah disebutkan pada poin di atas, Ibu Kartini tetap gemar belajar secara mandiri agar pribadinya dapat terus berkembang. Selain bertukar pikiran melalui kegiatan korespondensi, Ibu Kartini juga senang menyerap pengetahuan dan informasi dari bermacam buku dan koran yang dibacanya.

Dalam menjalani kesehariannya, si kecil mungkin juga sering menemukan bermacam kendala. Menghadapi masalah atau kendala itu sudah pasti enggak enak, tapi sebenarnya ini adalah kesempatan baik untuk melatih kemampuan problem solving anak. Ibu Kartini memang enggak bisa lanjut sekolah, tapi beliau menemukan cara lain untuk belajar. Kemampuan problem solving seperti ini juga akan menjadi skill penting buat si kecil di masa depan lho, Bun. 

Untuk melatih kemampuan problem solving anak, Bunda bisa ajak anak bermain puzzle atau bermacam board games, seperti ular tangga atau monopoli. Selain itu, Bunda juga bisa menciptakan diskusi simple tapi mendorong kemampuan critical thinking si kecil. Coba tanyakan pendapat si kecil, apa yang harus Bunda masak untuk makan siang esok hari. Ada bahan masak apa saja di rumah? Enaknya diolah menjadi apa? Apakah hidangan A bakal cocok dimakan bersama hidangan B? Diskusi-diskusi seperti ini Bun, sekalipun sederhana, tapi dapat melatih anak untuk berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah.

 

4. Berjiwa Pemimpin

Ibu Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, beliau adalah anak perempuan tertua. Sebagai kakak, perilaku Ibu Kartini sangat dipanuti oleh dua adik perempuannya bahkan leadership atau kemampuan memimpin beliau terbilang menonjol. Di masa kecilnya, Ibu Kartini sudah bisa bersikap adil dengan adik-adiknya. Dalam hal belajar, Ibu Kartini begitu tekun menyimak pelajaran-pelajaran yang diberikan padanya, dan perilaku ini dicontoh oleh adik-adiknya. Beliau pun juga senang  mengajarkan hal-hal baru kepada adik-adiknya.

Sama halnya dengan problem solving, leadership juga akan menjadi kemampuan penting untuk anak miliki di masa depan. Sejak dini, Bunda pun bisa melatih kemampuan leadership anak dengan membuatnya nyaman untuk berpendapat. Tanamkan pula nilai-nilai kejujuran dan ajarkan ia untuk mampu berdisiplin dalam kesehariannya.

 

5. Pantang Menyerah

Harapan Ibu Kartini bagi para perempuan Indonesia begitu besar. Beliau ingin perempuan Indonesia punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan hingga menjadi cerdas dan memiliki pemikiran yang maju. Berkat kegigihannya beliau pun berhasil mendirikan sekolah wanita di kabupaten Rembang. Selain itu, Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini juga berdiri di Semarang, lalu bertambah lagi di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Cirebon, Madiun, dan daerah lainnya. Oh iya Bun, keberhasilan Ibu Kartini dalam mewujudkan cita-citanya ini juga merupakan buah dari dukungan suaminya Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang Bupati Rembang yang beliau nikahi saat berusia 24 tahun.

Si kecil punya cita-cita apa, Bun? Untuk mewujudkan hal tersebut mungkin akan jadi perjalanan panjang yang penuh lika-liku bagi si kecil. Tapi di balik mimpi yang terwujud, selalu ada kerja keras dari sang pemimpi kan? Sebagai orang terdekat, Bunda dapat menjadi pendukung nomor satu buat si kecil. Tapi yang paling penting, si kecil bisa belajar dari sosok Ibu Kartini yang tidak mudah menyerah dalam hal mewujudkan cita-cita. 

 

Salah satu peran ibu dalam keluarga adalah mengajarkan bermacam value baik kepada si kecil, dan kali ini kita sudah belajar dari sosok R.A Kartini. Dalam mengajarkan hal baik kepada anak, pastikan Bunda menggunakan cara-cara yang menyenangkan agar ia dapat belajar dengan nyaman, senyaman sentuhan Bunda.

Selamat mengajarkan teladan dari Ibu Kartini kepada sang buah hati, Bun! Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-teman Bunda lainnya, ya.

Mountain
Cloud Cloud Cloud Cloud
keyboard_arrow_down