Element

Si Kecil Menangis? Pahami Arti Tangisannya Yuk!

Si Kecil Menangis? Pahami Arti Tangisannya Yuk!

#TauNggakSihBun kalau menangis merupakan cara bayi untuk berkomunikasi dengan orang terdekatnya? Tapi, berkomunikasi dengan orang dewasa yang sudah menguasai bahasa lisan saja masih suka salah paham, lalu bagaimana caranya kita bisa mengerti apa yang sebenarnya diinginkan si kecil lewat tangisannya?

Memahami bahasa bayi memang bisa jadi satu tantangan sendiri saat kita membesarkan anak. Ketika ia menggunakan bahasa tubuh seperti kontak mata atau melambaikan tangan, Bunda mungkin bisa langsung mengerti apa yang diinginkan. Tapi, lain cerita ketika kita bicara soal arti tangisan bayi. Bunda mungkin bingung mendengar buah hati terus-menerus menangis walau sudah diberi ASI, dibaringkan di tempat tidur yang nyaman, atau diganti popoknya.

Wajar kalau Bunda kemudian lelah, karena enggak paham, apa yang harus Bunda lakukan lagi untuk menenangkan si kecil. Tapi tenang, ByeBye-FEVER coba bantu ya! 

Untuk memahami arti tangisan bayi mungkin ada baiknya Bunda pahami dulu bahasa bayi Dunstan. Interpretasi tangisan bayi ini diciptakan oleh Priscilla Dunstan, penyanyi Opera asal Australia, setelah riset selama lebih delapan tahun ke seluruh penjuru dunia. Menurutnya, semua bayi punya suara-suara universal yang dikeluarkan sebelum menangis, dan itu bisa dipakai buat mengartikan tangisannya. 

Menurut bahasa bayi Dunstan, ada lima suara yang bisa Bunda perhatikan untuk bantu mengartikan tangisan bayi:

 

  1. Neh = “aku lapar!”
  2. Eh = “aku mau sendawa!”
  3. Eairh atau earggghh = perut kembung atau ingin pup
  4. Heh = merasa enggak nyaman (panas, dingin, atau basah)
  5. Owh atau oah = “aku ngantuk!”

 

Bunda bisa memerhatikan suara-suara ini saat bayi baru dilahirkan hingga sebelum berusia tiga bulan. Setelah itu, bayi akan mulai belajar berbicara dan suara-suara yang dikeluarkan akan berubah sesuai dengan lingkungan masing-masing. Tapi, beneran bisa dipercaya enggak sih interpretasi ala Dunstan ini?

Ada banyak orang tua yang mengklaim kalau bahasa ini membantu mereka mengartikan bahasa bayi, sih. Tapi karena teknik ini masih baru, efektivitasnya masih ditinjau. Ada beberapa penelitian yang bilang kalau bahasa ini punya ketepatan 89%, dan yang terbaru bahkan ada yang bilang 94,7%

Walau terdengar meyakinkan, namun kebenaran teori Dunstan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Tapi, setidaknya pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal buat Bunda, kan? Nah untuk melengkapi “bekal’ Bunda dalam memahami arti tangisan bayi, kita awali dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di pikiran Bunda saat si kecil menangis, yuk! Apakah karena lapar? Atau mungkin karena sakit? Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) coba mengarahkannya sebagai berikut:

 

Apakah ingin dimanja atau bosan?

Saat bayi menangis, insting kita sebagai seorang ibu pasti langsung ingin menghibur dan memberi kenyamanan, seperti langsung memberikan ByeBye-FEVER sebagai pertolongan pertama saat si Kecil demam. Namun jika si Kecil tidak demam, seringkali yang kita lakukan adalah memanjakan dan memeluk si buah hati. Ya enggak sih? Tapi nih ternyata, menurut IDAI sebenarnya bayi enggak bisa dimanja Bun. Mengangkat bayi dari tempat tidurnya sudah cukup menghibur, dan enggak disaranin untuk memeluk bayi secara terus-menerus. 

Ngomong-ngomong menghibur, jangan lupa juga siapkan mainan-mainan yang bisa jauhin bayi dari rasa bosan, karena perasaan itu seringkali diungkapkan dengan menangis. Bayi senang mendengar bunyi-bunyian dan melihat gerakan-gerakan. Jadi mainan dengan suara, bentuk dan warna yang menarik perhatian ternyata memang penting untuk rasa nyaman si kecil. Tapi harus diingat juga kalau keramaian juga bisa bikin bayi gelisah. Bahkan kadang suara TV saja bisa bikin bayi menangis. Jadi perhatikan juga keadaan rumah ya, Bun!

 

Apakah lapar atau sakit perut?

Urusan perut, bukan cuma kita saja yang suka rewel, Bun. Saat lapar, bayi akan merasa enggak nyaman dengan perutnya sehingga wajar saja jika menangis. Kalau terus-terusan menangis, mungkin itu karena ketersediaan ASI yang kurang mencukupi. Tapi, jangan buru-buru menyiapkan susu formula buat menenangkan si kecil ya, Bun. Konsultasi dulu dengan dokter buat mencegah efek yang enggak diharapkan. 

Sekalian cek juga kemungkinan si kecil sakit perut. Kalau menangis hebat sampai berjam-jam, terutama di usia dua minggu, kemungkinan ada masalah di perut bayi. Keadaan ini disebut kolik infantil dan umum terjadi. Biasanya keluhan akan hilang dengan sendiri di usia 3-4 bulan, jadi Bunda memang mesti bersabar kalau mengalami yang satu ini. Sebenarnya belum jelas apa yang jadi penyebabnya, tapi boleh jadi karena sistem pencernaan yang belum sempurna atau alergi susu sapi. Memijat perut bayi dengan lembut kadang bisa membantu memberikan rasa nyaman.

Kalau tangisan enggak juga berhenti, mungkin saja si kecil sakit. Bunda bisa cek gejala-gejala umum seperti demam atau batuk-batuk. Tapi periksa ke dokter pun enggak ada salahnya kok, Bun. Kalaupun memang ternyata sehat, kan Bunda jadi merasa lebih tenang juga. Tapi kalau belum sempat untuk membawanya ke dokter, plester kompres ByeBye-FEVER selalu siap untuk memberikan si kecil kenyamanan seperti senyaman sentuhan Bunda. 

Arti tangisan bayi memang selalu jadi teka-teki yang sulit dimengerti. Tapi semoga penjelasan ini bisa ngejawab pertanyaan-pertanyaan Bunda seputar tangisan si kecil ya. Semangat terus memberikan kenyamanan buat si buah hati, Bun! Sehat selalu! 

Mountain
Cloud Cloud Cloud Cloud
keyboard_arrow_down