Element

Less Drama saat Menyapih Anak, Coba Pakai Cara Ini!

Less Drama saat Menyapih Anak, Coba Pakai Cara Ini!

Si kecil makin besar dan segera tumbuh menjadi balita. Wah, mungkin sudah saatnya nih Bunda menyapih anak secara perlahan. Kira-kira akankah terjadi drama melebihi drama Korea?

Hai Bunda, menyusui tentu menjadi salah satu momen paling berkesan selama menjalani motherhood. Dan momen ini, tidak hanya berharga bagi Bunda saja, tapi juga bagi anak. Makanya, ketika waktu untuk menyapih anak tiba, wajar jika terjadi “drama-drama” kecil mengingat mengubah kebiasaan ini sebenarnya sama-sama sulit bagi ibu dan anak.

Bicara soal manfaat menyusui sudah jelas dan tidak perlu diragukan lagi, tapi saat anak memiliki pertumbuhan yang bagus dan usianya juga sudah mencapai 2 tahun maka muncul perasaan “cukup” dari Bunda untuk memberikannya ASI. Di sisi lain, si kecil mungkin sudah menunjukkan tanda-tanda siap disapih bahkan sejak ia berusia 6 bulan, seperti ia mampu duduk dengan kepala tegak dalam waktu yang lama, membuka mulut dan selalu tertarik saat melihat orang makan di dekatnya, serta koordinasi antara mata, mulut, dan tangannya bekerja baik sehingga dapat melakukan aktivitas makan. Kemudian, tanda lain yang juga bisa Bunda jadikan patokan adalah anak rewel atau hanya memainkan puting saat disusui dan waktu menyusu anak lebih cepat daripada biasanya.

Nah, kalau Bunda sudah merasa “sekarang waktunya” dan berkomitmen untuk menyapih si kecil, berikut beberapa cara menyapih anak yang bisa Bunda lakukan agar Bunda maupun anak tetap merasa nyaman, senyaman plester ByeBye-FEVER saat menempel di kulit si kecil.

 

1. Komunikasikan dengan Anak

Anak enggak perlu dibohongi Bunda dengan pura-pura tidur, lalu Bunda juga enggak perlu tuh mengolesi puting dengan apa pun yang sebenarnya dapat menyakiti si kecil. Sebaliknya, bilang terus terang pada si kecil, misalnya “Kania, udah besar ya dan makin pintar, jadi nggak butuh nenen Bunda lagi. Kita minum susu dari gelas aja, yuk!”

Apakah mereka bakal mengerti? Yes. Mungkin enggak bakal langsung mengerti, but eventually they will. Bunda jangan bosan ya mengomunikasikan hal tersebut kepada si kecil.

 

2. Jangan Mendadak Berhenti

“Don’t offer, don’t refuse.” Berkomitmen menyapih bukan berarti menolak keras keinginan si kecil untuk menyusu, melainkan Bunda berhenti untuk menawarkan padanya. Perasaan ditolak dapat membuat si kecil stres dan berhenti menyusui mendadak juga bakal menyulitkan Bunda, karena produksi ASI masih berjalan dan Bunda malah bisa terkena mastitis jika ASI tidak dikeluarkan. 

Jadi, hal yang bisa Bunda lakukan adalah mengurangi jadwal menyusui si kecil. Mungkin dalam sehari, Bunda hanya menyusui 1-2 kali saja.  Ingat, ketika jadwal menyusui dihilangkan maka Bunda perlu ekstra memperhatikan kebutuhan asupannya. Selain makanan utama, siapkan pula camilan sehat untuknya agar ia tidak merasa lapar. Oh iya, Bunda juga bisa melakukan pumping/pompa ASI, tapi kurangi frekuensinya ya. Lakukan pumping saat payudara mulai bengkak dan tidak perlu dipompa sampai kosong. Hal ini berguna agar produksi ASI Bunda jadi menurun hingga berhenti.

 

3. Minta Dukungan Orang Terdekat

Menyapih itu bukan sebatas kerja sama antara Bunda dan anak, melainkan seluruh orang yang tinggal satu atap sama kalian, terutama Ayah. Proses menyapih kadang membuat Bunda ikutan stres. Ada perasaan enggak tega, kangen, bahkan Bunda bisa mengalami post weaning depression akibat perubahan hormon. Di sinilah perah Ayah dan orang-orang terdekat dibutuhkan untuk menemani plus menyemangati Bunda dan si kecil melewati fase ini.

Kehadiran Ayah juga bisa menjadi distraksi tersendiri lho buat si kecil. Saat si kecil mulai minta menyusu pada Bunda maka Ayah bisa coba mengajak si kecil bermain, bernyanyi, atau melakukan kegiatan menyenangkan lainnya untuk mengalihkan perhatian si kecil.

 

4. Buat Kebiasaan Baru Secara Perlahan

Kalau bangun pagi si kecil terbiasa langsung menempel di dada Bunda maka mulai sekarang ajak si kecil buat duduk bersama di meja makan dan menikmati sarapannya bersama Bunda. Kemudian di malam hari, cobalah untuk menidurkan anak tanpa menyusui. Bunda bisa ciptakan “ritual” baru, misalnya bercerita sebelum tidur sambil tetap memeluk dan menciumnya.

Selain itu, ketika jam menyusui si kecil tiba, Bunda bisa berikan ASI atau susu formula dalam gelas atau cangkir, bukan dalam botol. Agar anak makin semangat minum pakai gelas ketimbang botol susu, Bunda pun bisa mengakalinya dengan memanfaatkan minuman favorit si kecil. Misalnya, minum susu dan jus buah pakai gelas, sedangkan minum air putih pakai botol susu.

 

Oke, apakah Bunda sudah siap menyapih anak? Di fase ini, Bunda juga harus perbanyak quality time bareng si kecil. Gendong, peluk, cium, dan temani ia bermain, semua ini penting lho Bunda agar ia tidak merasa ditolak atau dijauhi ibunya. 

Semangat Bunda, semoga proses menyapih si kecil berjalan lancar dan jangan lupa share artikel ini ke para Bunda lainnya, ya!

Mountain
Cloud Cloud Cloud Cloud
keyboard_arrow_down