Element

Gizi Buruk dan Stunting, Apa Bedanya?

Gizi Buruk dan Stunting, Apa Bedanya?

Ada gizi buruk, ada pula stunting.  Keduanya ternyata berbeda lho Bun sekalipun punya kemiripan. Makanya hari ini, Bunda akan belajar bersama ByeBye-FEVER untuk memahami perbedaan antara anak yang menderita gizi buruk dan anak yang mengalami stunting.

#TahuNggakSihBun, jumlah kasus stunting di Indonesia itu mencapai 27,67% berdasarkan hasil survei status gizi balita tahun 2019. Kemudian, Riskesdas 2018 pun menyatakan 17.7% anak di bawah 5 tahun mengalami masalah gizi dengan rincian 3,9% menderita gizi buruk dan 13,8% menderita gizi kurang. Sedih ya, Bun. Kita tentu berharap anak-anak kita tidak mengalami hal tersebut, dan semua anak-anak di Indonesia dalam keadaan sehat.

Lalu, apa yang membedakan stunting dengan gizi buruk? Dari pengertiannya, stunting adalah sebuah kondisi, di mana tinggi badan anak di bawah rata-rata anak seusianya. Sedangkan gizi buruk adalah sebuah kondisi ketika anak tidak menerima asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhannya (malnutrisi). Agar Bunda semakin jelas memahami perbedaannya, simak ulasan di bawah ini yuk!

 

Kondisi fisik

Pada anak yang mengalami gizi buruk, kondisi kulit akan tampak kering, lemaknya pun terasa berkurang, dan ukuran otot terlihat mengecil.  Bahkan, jika gizinya tidak mengalami perkembangan positif dalam waktu yang lama, perut anak justru akan menjadi buncit dan tidak proporsional dengan bagian tubuh lainnya. Sedangkan, pada anak yang mengalami stunting, pertumbuhannya cenderung melambat dan kondisi tubuh terlihat lebih pendek dan tampak lebih muda jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Selain itu, tahapan pubertas pada anak stunting akan lebih terlambat sehingga peralihan menuju fase dewasanya terhambat.

 

Faktor penyebab

Gizi buruk dan stunting pada dasarnya sama-sama disebabkan karena kekurangan gizi, tapi terdapat perbedaan besar pada aspek waktu dan penyebabnya. Gizi buruk biasanya terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan membuat berat badan turun drastis dan memicu timbulnya potensi gizi buruk. Sedangkan pada kasus stunting, jangka waktu kekurangan gizinya lebih panjang, apalagi di masa-masa 1.000 hari pertama sang anak lahir. Selain itu, faktor seringnya si Kecil dengan berat badan lahir rendah (BBLR) jatuh sakit pun jadi salah satu yang berpengaruh pada kasus anak stunting.

 

Efek pada tubuh

Anak yang menderita gizi buruk akan sangat mudah terkena penyakit atau infeksi karena kekebalan tubuhnya tidak terlalu kuat. Tak hanya itu, tingkat kecerdasannya pun secara tidak langsung terpengaruh dengan keadaan gizinya yang tidak stabil. Jika situasi ini berlangsung lama, pertumbuhan anak akan berhenti sebelum waktunya, tubuhnya akan kurus bahkan bisa menjadi stunting lho. Di sisi lain pada kasus stunting, gangguan metabolisme dan kekebalan anak akan terganggu, ukuran fisik tubuhnya tidak optimal seperti pada umumnya, hingga kemampuan kognitif dan motorik si kecil pun tidak berkembang dengan baik.

 

Cegah gizi buruk dan stunting pada anak dengan selalu memperhatikan asupan nutrisi si Kecil sejak dini. Berikan makanan sehat dan seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Tak hanya itu, jika anak tiba-tiba sakit, seperti mengalami flu atau demam yang bisa berdampak pada berkurangnya napsu makan, pastikan Bunda segera memberikan perawatan terbaik agar selera makan si kecil dapat kembali pulih dan ia tidak perlu mengalami malnutrisi. Oh iya, sebagai bentuk pertolongan pertama pada anak demam, tempelkan plester kompres ByeBye-FEVER pada dahi, lipatan paha atau lipatan ketiaknya ya, Bun. 

Bunda jangan pernah lelah untuk memantau tumbuh kembang si kecil, terutama dari tinggi dan berat badannya. Bunda harus terus semangat menemani si kecil dalam masa-masa pertumbuhannya agar ia merasa nyaman, senyaman sentuhan Bunda. 

Biasakan pula Bunda berkonsultasi dengan dokter anak secara berkala agar Bunda bisa terus mengetahui perkembangan dan kondisi kesehatan si kecil. Jika ada gangguan kesehatan, termasuk stunting dan gizi buruk Bunda pun bisa segera memberikan perawatan yang tepat sejak dini kepada si kecil. Namun jika si kecil dalam keadaan sehat, menerima arahan dari dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan pengetahuan yang memadai soal kebutuhan nutrisi anak tentu menjadi suatu hal yang baik. 

Tak lupa, pastikan juga di lingkungan rumah, akses sanitasi dan air bersihnya sangat layak serta pengelolaan sampahnya dijalankan dengan baik sebagai upaya pencegahan infeksi penyakit yang berulang. Infeksi berulang yang terjadi dalam waktu yang cukup lama bisa menjadi faktor pemicu terjadinya stunting.

Jika anak sudah mengalami kekurangan nutrisi, mungkin seolah mimpi buruk bagi Bunda dan menjadi hal yang paling tidak diinginkan. Namun, sebenarnya Bunda tak perlu khawatir atau merasa gagal, karena dengan pengetahuan dan persiapan yang baik, Bunda pasti bisa mencegahnya dan mengobatinya. Semangat terus ya, Bun!

Mountain
Cloud Cloud Cloud Cloud
keyboard_arrow_down