Element

Apakah Gadget Bikin Anak Antisosial?

Apakah Gadget Bikin Anak Antisosial?

Setidaknya di awal masa pertumbuhan si Kecil, hanya Bunda dan Ayah yang bisa menjaganya agar enggak mengalami dampak negatif dari teknologi. Itulah mengapa keluarga mempunyai peran penting dalam proses sosialisasi anak. 

Di tengah pandemi beberapa bulan belakangan ini, kita semua terpaksa untuk mengurangi interaksi tatap muka sehari-hari. Akibatnya, sebagian dari kita mungkin jadi lebih bergantung pada gadget untuk bersosialisasi. Bunda dan anak-anak sendiri gimana, termasuk dalam kategori ini atau enggak?

Keadaan baru ini memang cukup membawa banyak alasan buat kita memberi waktu lebih banyak untuk si kecil dalam menggunakan smartphone atau perangkat teknologi lainnya. Selain kegiatan sekolah yang dilakukan secara remote, si kecil juga enggak bisa main di luar bersama anak-anak sebayanya. Sementara, kita pun mungkin disibukkan dengan WFH atau work from home.

Nah, karena kondisi belakangan ini bakal bikin anak lebih punya banyak peluang untuk menatap layar gadget, Bunda mungkin jadi khawatir si kecil menjadi pribadi yang antisosial akibat penggunaan gadget yang berlebihan. Padahal kan, keinginan Bunda itu si kecil dapat menggunakan gadget dengan bijak, aman, dan nyaman.

Maka dari itu, ByeBye-FEVER pun coba mencari jawaban atas kekhawatiran Bunda tersebut. Ternyata sejauh ini, belum ada bukti konkret yang menunjukkan kalau perangkat seperti smartphones atau tablets bisa mengakibatkan anak jadi antisosial. 

Menurut Adam Pletter, psikolog anak dan pendiri iParent 101, pada kenyataannya kita belum sepenuhnya paham dampak dari kegiatan sosial di dunia digital pada si kecil. Mengingat hal ini masih termasuk fenomena baru maka masih banyak hal yang perlu ditelaah lebih jauh. Palingan ada pernyataan dari Jean Twenge, dosen psikologi dari San Diego University soal kehadiran smartphone di tahun 2007 lalu membawa perubahan signifikan buat anak-anak yang lahir antara 1995 dan 2012 (iGen) terkait sifat interaksi sosial hingga kesehatan mental mereka. Walau begitu, dia enggak menyebutkan kalau penggunaan gadget bisa bikin anak antisosial.

Menariknya, malah penelitian dari McGill University bilang kalau smartphone itu bukan bikin kita antisosial, tapi hiper-sosial. Menurut Samuel Veissiere, dosen antropologi kognitif di universitas tersebut, manusia pada dasarnya memang ingin memerhatikan dan diperhatikan orang lain. Hasrat ini terbawa dari para pendahulu evolusioner kita, dan di masa modern ini bisa terpenuhi oleh smartphone. Bisa dibilang, kita sebenarnya bukan ketagihan smartphone, tapi ketagihan interaksi sosial.

Jadi, kebenaran soal gadget bikin anak antisosial itu rupanya belum pasti, Bunda. Meski begitu, enggak ada salahnya juga kalau kita berwaspada. Sebagai orang tua, Bunda juga berperan menjadi guru bagi si kecil maka termasuk tugas kita untuk mengajarkan mereka bersosialisasi. Kalau memang ada tanda-tanda si kecil mulai enggan berinteraksi sosial, walau belum tentu karena smartphone yang Bunda kasih, tetap kasih dorongan lebih ya.

Kalau bukan kita, siapa lagi? Itulah mengapa keluarga mempunyai peran penting dalam proses sosialisasi anak. Jangan lupa juga ajak Ayah untuk memberi contoh, terutama kalau Bunda punya anak laki-laki. Peran Ayah dalam keluarga enggak kalah penting lho untuk perkembangan si kecil. 

Kelak setelah keadaan menjadi lebih baik, Bunda bisa kembali mengizinkan si kecil untuk bermain lagi bersama teman-temannya di luar rumah atau bahkan mengajak si kecil untuk menemani Bunda mengikuti kegiatan sosial. Pokoknya kegiatan positif apa pun yang dapat memberikan si kecil alasan untuk bersosialisasi dan menyimpan dulu gadget-nya.

Buat sesi interaksi sosial itu seseru mungkin dan senyaman mungkin supaya si kecil enggak kapok atau bahkan ketagihan, seperti nyaman yang diberikan ByeBye-FEVER saat si kecil demam, senyaman sentuhan Bunda!

Gimana, masih khawatir si kecil antisosial karena gadget? Tenang aja, Bun. Teknologi itu ada buat membantu kehidupan kita, dan kitalah yang harus memastikan alat-alat itu digunakan dengan baik. Setuju kan, Bunda?

Mountain
Cloud Cloud Cloud Cloud
keyboard_arrow_down